Rabu, 14 Desember 2011

peri kecil yang menanti kematian

Peri kecil yang menanti kematiam
         
Ini adalah kisah seorang gadis kecil yang sedang menunggu kematiannya, gadis kecil ini bernama cipo, kini usia cipo adalah dua belas tahun di usia yang terbilang dini cipo divonis kanker otak stadium akhir dan diperkirakan usianya hanyalah dua tahun saja. Hidup dengan keluarga yang tidak harmonis membuat cipo merasa kesepian , Cipo menjalani hari-harinya dengan memgikuti berbagai banyak kegiatan hanya karena dia tidak ingin merasakan kesepian yang setiap hari ia rasakan pada saat di dalam rumahnya.Dahulu cipo merupakan anak yang periang, aktif suka bermain tapi kini telah sirna tidak ada lagi canda tawa dari wajahnya. Setelah tahu dengan kondisi yang semakin tidak memungkin kan dia memilih diam.

            Kini hari-harinya hanyalah menangis dan berdiam, menghitungkan waktu kapan saat itu tiba dimana saat kematian itu datang kepadanya, dalam dirinya hanya satu pintanya pergi dalam pangkuan bundanya, “ya Tuhan aku ikhlas dengan takdir-Mu tapi bila aku boleh meminta aku ingin bertemu bundaku dan pergi dalam pangkuanya.” Setiap malam dia berdoa dan meminta agar doa nya pun di terima oleh Tuhan. 

            Hari ini adalah jadwal cipo chek up kondisi sakitnya, ci bangun dan membuka jendelanya dan tersenyum menatap indahnya pagi.

            Pagi, ialah ketika ku mendengar kicauan burung,
            Yang bernyanyi menyambut pagi.
            Ketika ku melihat embun membasahi rumput pagi.
            Aku akan siap menjalani hari ini.
            Menjalani hari dengan ketegaran hati
            Serta mensyukuri nikmat yang kau beri.


Ci pun membuat janji dengan dokter yang biasa menanganinya. Diambil lah handphone dari tasnya dan segera menelpon dokter. ‘ Pagi, dok saya cipo hari ini saya chek up ya kerumah sakit!” ujar cipo membuat janji dengan dokternya. “ ok deh peri kecil saya tunggu ya...”dokter pun membalas percakapanya. Setelah sepakat Cipo pun menutup telponya dan segera mengambil handuk dan bergegas mandi namun sebelum menuju kekamar mandi dia sempat menulis sebait puisi.

Tuhan, apakah engkau menyayangiku?
Tuhan, apakah rencana yang kau tulis untukku?
Aku hanya lah pemeran atas drama hidup yang kau buat,
Aku mengikuti semua yang kau tuliskan,
Dalam skenario hidupku. Semoga mendapat akhir yang indah.

Setelah selesai mandi dan memakai baju yang simple dia pun berangkat dengan menggunakan taxi yang telah dipesanya. Tak lama cipo pun sampai karena jarak rumah sakit dengan rumah nya titdak terlalu jauh jadi bisa cepat sampai. Ci pun membayar taxi dan segera masuk karena telah ditunggu dokter. Setelah mengisi pendaftaran Ci pun diantar perawat menuju ruang dokter. “Hay peri kecil, baru sampai ni?”sapa dokter kepada ci, “iya ni dok takut dokter ga ada jadi pagi-pagi deh datang nya ”Ci pun menjawab sapaan sang dokter. Ci pun duduk dikursi yang berada di depan meja dokter.

            Setelah melakukan berbagai test Ci pun menunggu diruang tunggu karena menunggu hasil pemeriksaan yang harus segera dia konsulkan kepada dokternya. Setelah hasil chek up ci keluar cipo pun kembali keruang dokter untuk bertanya tentang kondisinya. Setelah hasil lab dibaca oleh dokter dengan ragu dokter pun memberi tahu kalo sel kanker dalam otaknya semakin meluas dan diperkirakan usia Ci hanya tinggal tiga hari. Bagain kan kesambar halilintar di siang hari ketika dia mengetahui kondisi sakitnya. Ci pun keluar dengan tangan memagang amplop coklat hasil chek up hari ini.

Ci pun pulang dengan kondisi tubuh yang lemah air mata yang terus keluar dari mata indahnya. Ci pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sesentak ia terbangun dan meraih semua oabt-obatan dari dokter yang terdapat di mejanya kemudian dia pun membuang semua obat-obatan tersebut  “ Buat apa semua obat ini kalau pada akhirnya saya akan mati !” Ci pun marah dengan tahu kondisinya. 

Dua hari pun ia lewatkan hanya menangis,menagis,dan menangis tepat dengan perkiraan dokter di hari ketiga setelah chek up. Tubuh Ci demam tinggi disertai sakit kepala yang hebat dan disusul dengan pendarahan yang keluar dari hidung dan telinganya dan terus menjerit kesakitan Ci pun terus berdoa ‘ Ya Tuhan ini kah akhir dari semua drama kehidupan ku, inikah akhir skenaria yang engkau tuliskan untukku? Aku  ikhlas ya Tuhan jika takdirku telah tiba.”

Terima kasih Tuhan atas kasih-Mu
Aku adalah pemeran dari drama-Mu
Engkaulau penulis skenario hidupku
Engkau pula lah yang menjadi sutradara
Dari hidupku.
Aku akan menjalini ini semua dengan ikhlas.

Sebelum kesadaranya hilang Ci pun sempat menelpon rumah sakit untuk mengirimkan ambulance untuk kerumahnya. Tak lama pun ambulance pun datang Ci pun segera ditangani dan dibawa kerumah sakit dimana di chek up selama ini. Sesampai dirumah sakit Ci pun segera di tangani para dokter dan perawat dan sampai akhirnya Ci harus rawat intensif yakni di ruang ICCU. Ketika seorang perawat bertugas menggantikan pakaian nya perawat tersebut melihat selembar surat yang jatuh. Surat itu pun tertuju kepada dokter yang selama ini merawatnya.
           
Dear dokterku yang tampan
                        Hay pak dokter tampan apa kabar semoga baik ya hehe...... mungkin saat dokter baca surat ini peri kecil mu ini telah terbaring kritis atau sudah tidak ada. Dok terima kasih atas semua perhatian, waktu yang dokter kasih ke aku. Terima kasih juga dokter telah merawat ku hingga waktu itu tiba. Pak dokter kalo aku boleh minta mau minta tolong ya, ya ya ya mau ya hehehe bila nanti ketika dokter membaca surat ini pada saat kondisi aku koma tolong ya dok ketemukan saya dengan bunda saya ya?

 walau bukan bunda kandung saya saya sudah mrnganggap seperti bunda kandung saya. Saya mau saat saya pergi nanti saya pergi dalam keadaan berada dalam pangkuanya mau ya dok alamat nya sudah ada dalam suratku , sebelumnya terima kasih dokterku.
                                                                                                Salam paling manis

                                                                                                            Peri kecil

Tanpa berpikir panjang dokternya pun segera ingin mengabulkan permintaan terakhir dari pasienya, yang saat itu dalam kondisi yang sangat amat kritis hidupnya hanya tergantung pada alat-alat medis. Sang dokter langsung bertolak kerumah bunda cipo yang menurut alamat tercantum di surat berada di daerah Jawa Tengah. Setelah melakukan perjalanan dari kota Jakarta ke kota Yogyakarta selama kurang lebih empat jam tiba lah dokter tersebut dirumah bunda cipo setelah dipersilahkan masuk. Dokter ci pun memberi tahu maksud dan tujuannya mengapa ia mendatangi bunda Cipo, “ bu mohon maaf sebelumnya perkenalkan saya dokter cipo yang selama ini merawat cipo. Saya ingin menyampaikan suatu berita bahwa cipo kini sedang terbaring kritis dan kemungkinan untuk pulih sangat lah minim sekali, dalam surat yang kami ketemukan dari saku milik ci, ci sangat ingin sekeli bertemu dengan bundanya yang selama ini menjadi semangatnya. Ci pun ingin menghabiskan sisa waktunya bersama bundanya, dengan demikian saya ingin mengajak ibu ke jakarta untuk bertemu dengan cipo.” 
Setelah mendengar kabar yang tidak baik itu pun seketika tubuh bunda ci pun lemas dan pucat sambil berkata lirih” baik dok kita berangkat sekarang ke Jakarta saya ingin menemani anak saya dan saya yakin ci gadis yang kuat dan mampu bertahan. Sore itu pun dokter dan bunda ci berangkat menuju jakarta..
            Setelah melakukan pe jalanan yang lumayan jauhnya bunda Di dan dokter tiba dirumah sakit, betapa sedihnya bunda Di 

           Ya Tuhan mengapa,
            Kau coba anakku seberat ini.
            Apakah engkau terlalu sayang,
            Kepada anakku ini?

            Tuhan saya rela menukarkan,
            Hidup ku ini agar anakku
            Dapat tetap bertahan tuk
            Menjadi apa yang ia inginkan

sampai tidak kuasa menahan air mata yang yang keluar dari matanya. Dengan tangan gemetar bunda Di masuk keruang ICCU tempat dimana Ci dirawat , bunda Di pun segera memegang kedua tangan Cipo, “bangun nak ini bunda, kamu pasti kuat mana cipo yang bunda kenal selalu riang semangat gak akan pernah menyerah. Bangun nak bunda ada disini menemani , kamu harus kuat.” Bunda di pun berusaha menyemangati cipo sampai akhirnya Ci pun terbangun dan menghapus air mata bunda Di , Ci pun sempat mengatakan”makasi bunda sudah mau datang terima kasih atas semua kasih sayang yang bunda berikan, Cipo capek dan harus menyerah maaf kan Cipo, jangan menangis bunda , Cipo sayang bunda , biarkan Cipo pergi tetaplah tersenyum . Cipo selalu menjadi peri kecil untuk kalian.”
           
Ci pun kembali menutup matanya dan saat itulah Ci menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan bunda Di. Sekejap ruangan pun menjadi hening dokter pun segera memeriksa dan hasilnya Ci tidur untuk selamanya. Semua pun menangis karena kehilangan seorang peri yang selalu ceria menemani hari-hari mereka. Ci pun dibawa pulang kerumah untuk di makam kan begitu banyak yang mengantarkan sang peri kecil ketempat peristirahatan terakhirnya. Kini tiada lagi senyum manis si peri kecil , hanyalah kenangan indah bersamaanya
SELAMAT JALAN PERI KECIL kau tetap selalu ada di dalam hidup kami.

-        TAMAT - 

Tidak ada komentar: