Edisi 103/ Mei
by : Rosyidah/ Pocci
Aku
terlahir dalam keluarga nasrani.Opa yang seorang paastur, membuatku dan keluarga
sebagai penganut Nasrani yang taat, bukan hanya setiap hari minggu saja kami
pergi ke gereja, melainkan setiap hari. Sejak orang tuaku meninggal aku tinggal
bersama Opa dan Ama ku. Menginjak usia 13 tahun aku divonis dokter menderita
sakit leukimia stadium akhir betapa
terkejutnya semua keluargaku menerima keyakinan ini.. pengobatan demi pengobatan
aku jalani sampai aku menjalani perawatan di negri sebrang namun kondisiku tidak
membaik malah tambah terpuruk.
Ada jawaban dalam Al Quran
Selama
dua tahun aku menjalani pengobatan. Aku lelah dengan hidupku ini , suatu saat
dihari Ahad, aku membaca buku di toko buku Gramedia aku mencari buku-buku
tentang pengobatan herbal, namun entah mengapa hatiku ingin sekali melihat
buku-buku di rak agama kaki ku melangkah kebagian itu, namun bukan buku-buku
agama dari agamaku. Tiba-tiba tanganku meraih sebuah buku besar dan didalamnya
terdapat tulisan yang tidak kupahami, aku membaca judul sampul depan buku itu tertulis
“ Al QURAN DAN TERJEMAHNYA” aku membuka halaman demi halaman sampai akhirnya
ada sebuah ayat yang berbunyi Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang
menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`:
82). Aku membaca buku lainnnya kemudian membaca buku “sholat dapat menyembuhkan
berbagai penyakit” seperti mendapat pencerahaan aku sangat senang aku membeli
buku itu.
Belajar islam diam-diam,
Setelah
ku baca buku yang aku beli, aku bertanya dengan teman ku yang beragama muslim
“apa benar sholat bisa membuat sembuah suatu penyakit, dan apa benar Alloh SWT
bisa menyembuhkan penyakit manusia?” lalu ia menjelaskan “bahwa bila dalam
sholat itu gerakan kita benar maka kita bisa melancarkan sirkulasi darah yang
jadi penyebabab suatu penyakit, dan Alloh menyembuhkan segala macam penyakit
asal kita tetap berdoa dan berikhtiar semua penyakit akan ada obatnya” setelah
mendengar penjelasanya aku pun meminta untuk diajarkan sholat dengan kerendahan
hati ia mulai mengajariku tata cara wudhu dan sholat, hari demi hari aku belajar
aku mendapat ketenangan luar biasa selepas mempelajari sholat.
Diusir Opa
Aku
bercerita kepada temanku bahwa aku ingin masuk islam.Temanku pun mengajakku
bertemu dengan guru pengajinya Alm H.mustofa disana aku diberi
penjelasan bahwa menjadi mualaf itu harus dari hati bukan hanya ada keinginan. Aku
coba meluruskan niatku, dan pada 10 september 2008 aku memutuskan untuk bersyahadat.
Perasaanku saat itu seperti lahir kembali seperti aku mendapat kebahagiaan yang
tak terkira.
Setelah
sebulan menjadi mualaf, aku memberi tahu semua anggota keluargaku tentang
kepindahan agamaku. Opa yang tahu cucu kesayangannya memeluk agama lain, sangat
marah sekali. Dengan keras beliau memintaku agar kembali ke agama dahulu. Aku
pun menolak dengan keras, aku tetap dengan pendirianku. Sampai akhirnya Opa
mengusirku “ Jika kamu mengkhianati Tuhan kamu silahkan pergi tinggalkan tempat
ini, dan kamu bukan keluarga ini lagi” aku melihat Ama menangis dan meminta aku
tetap bersamanya namun tetap dengan agama lamaku. Aku memutuskan untuk keluar dari rumahku yang aku
tinggali sejak lahir. Sedih? Sudah pasti karena aku meninggalkan orang-orang
yang aku sayangi. Ternyata aku tidak pergi sendiri, Akyong (paman) beliau tidak
tega melihat aku keluar rumah sendiri karena saat itu usia aku baru 15 tahun
aku pun pindah ke jakarta dengan kehidupan yang jauh sekali dengan kehidupanku
ketika masih dibangka inilah keputusanku aku harus jalani
Kesempatan Kedua
Sudah
satu tahun aku memeluk muslim, namun sakit aku tetaplah belum ada perubahan
yang berarti, aku sanagatlah menjadi lemah. Saat itu aku dan akyongku hanya
membuka toko dan itupun toko kami telah hangus karena terbakar. Inilah cobaan
hidupku. Ketika aku sedang konsultasi dengan ustad, beliau menyarankan aku untuk
ikut majlis bengkel hati yang dipimpin ustad Danu beliau adalah pakar dalam
pengobatan dengan menmperbaiki hati. Aku langsung mendatangi ustad Danu sungguh
kebesaran Allah, aku bisa langsung bertemu dengan beliau dan bisa menceritakan
tentang sakitku. Beliau pun menjelaskan padaku “ pada dasarnya sakit adalah
nikmat yang diberikan allah ke kita, entah itu berupa teguran atau peringatan.
Yang membuat sakit itu diri kita sendiri, apa kamu sudah benar-benar taat sama
Allah? Apa kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang muslim? Kalau
belum, silakan bertaubat dan jalankan kewajibanmu”
Mendengar
penjelasan beliau, aku memang lalai menjalankan kewajibanku, sholat lima waktu dan
puasaku belum penuh. Apakah ini cobaan hidupku? Dua minggu berselang, setelah mengunjungi
ustadz Danu kondisiku menjadi sanagat parah. Aku harus di rawat di ruang ICU
rumah sakit umum daerah Cibinong aku koma dan tertidur sealama 15 hari. Dokter
menyarankan akyongku untuk membawa pulang. Menurutnya usiaku sudah tidak lama
lagi. Dalam ketidaksadaranku, aku bermimpi menemukan sebuah cahaya yang terang
namun aku tidak dapat meraihnya. Ketika aku sholat akhirnya cahaya itu mendekat
padaku. Sangat ajaib, karena aku kemudian tersadar. Dokter takjub dengan
keadaanku yang memulih. Sejak saat itu aku memperbaiki sholatku dan puasaku
hasilnya sangat menakjubkan jadwal kemotrapiku yang tadinya seminggu sekali,
kini hanya satu bulan sekali saja.
Perasaanku
sangat senang. Aku kembali memperbaiki ibadahku dan aku melakukan sedekah,
didorong oleh buku ustad Yusuf Mansyur “ keajaiban sedekah” dengan sedekah
kita bisa mendapat pertolongan Allah swt. Aku dan Akyong mengurus usaha kami,
hari demi hari toko kami kian membesar. Suatu ketika aku mengecek perkembangan
kankerku. Subhanallah kangkerku
dinyatakan sembuh oleh dokter. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur atas rahmat-Nya. Sayangnya aku tidak bisa
membagi kabar bahagia ini pada akyong. Ia tidak bersamaku lagi, sakit telah
merenggut nyawanya. Semakin sedih karena aku tidak bisa mengantarkannya ke
peristirahatan terakhir. Opa belum mau menerimaku.
Kehiduanku
kembali terpuruk semua aset akyongku diambil alih oleh opa termasuk rumah yang
aku tempati, aku tidak larut dalam kesedihan. Aku yakin Allah tidak membiarkan
hamba-Nya larut dalam kesedihan. semua itu diganti dengan aku bertemu dengan
orang tua angkat yang sayang sekali denganku ayah dan bunda yang menyayangiku
seperti anak mereka sendiri. Aku kini terus belajar tetap istiqomah dijalan
Allah aku akan selalu mengahadapi semua ujiannya, karena aku yakin Alloh tidak
akan menguji hamba nya diluar kemampuannya.
Semoga
kisahku bisa menjadi inspirasi bagi yang membacanya.
By
: pocci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar